Syaikh Shalih bin Abdillah Al ‘Ushaimi dalam muqadimah kitab beliau, banyak sedikit nya Ilmu seseorang, sebanding dengan seberapa besar pengagungannya terhadap Ilmu.
Hati yang mengagungkan Ilmu, hati itu semakin pantas bersarangnya Ilmu.
Dua puluh perkara pengagungan Ilmu:
1. Membersihkan tempat Ilmu, yaitu hati. Bila hait kita bersih, ilmu akan berkenan masuk, dan bila bersih mudah menerima Ilmu. Hal yang mencegah ilmu masuk adalah kotoran syahwat dan syubhat.
2. Mengikhlaskkan niat karena Allah dalam menuntutnya.
☘️Menggangkat kebdodohan dari diri sendiri
?Menggangkat kebdodohan dari orang lain
?Menghidupkan Ilmu supaya tidak punah
?Mengamalkan ilmu
3. Mengumpulkan tekat dalam menuntut ilmu.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
HR. Muslim
Imam Ahmad bin Hambal datang menuntut ilmu sebelum shubuh. Mereka membaca Shahih Bukhari pada 3 majelis ilmu.
4. Semangat mempelajari Al Qur’an dan hadist, karena itulah sumber Ilmu.
5. Menempuh jalan yang benar dalam menuntut ilmu agama. Orang yg salah cara dia tdk akan mendapatkan keinginannya, atau mendapat sedikit namun juga kelelahan. Cara-cara menuntut ilmu yang benar antara lain:
?Menghafal matan kitab yg menyeluruh. mengumpulkan perkara yang rajih/kuat dari para ulama
?Mempelajari ilmu dari seorang yg ahli dan mampu mengajar
6. Mendahulukan ilmu yang paling penting, kemudian yang setelahnya-setelahnya. Yang paling penting yang berkaitan dengan ibadah seseorang kepada Allah seperti aqidah, tata cara sholat, dll.
7. Bersegera dalam menuntut ilmu terutama pada masa muda karena itu adalah waktu emas.
Menuntut Hasan Al Bashri, menuntut ilmu di waktu kecil seperti mengukir di batu.
Sedangkan jika sudah tua memiliki banyak kesibukan, pikiran dan koneksi. Jika bisa mengatasinya, insya Allah bisa mendapat Ilmu, misal seperti sahabat2 nabi juga menuntut ilmu ketika sudah tidak muda.
8. Pelan-pelan dalam menuntut ilmu, karena tidak bisa dikerjakan serta merta sekali jalan.
Bisa mulai dari kitab-kitab yang ringkas, mengahfal dan dipahami maknanya. Jangan dimulai dari kitab-kitab yang panjang.
9. Sabar dalam menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu.
Menghafal, memahami, menghadiri majelis, menghargai guru, menyampaikan ilmu butuh kesabaran.
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah berkata,
ولا يستطاع العلم براحة الجسد
“Ilmu tidak akan diperoleh dengantubuh yang santai (tidak bersungguh-sungguh)”.
10. Memperhatikan adab ilmu.
Ilmu yang bermanfaat didapatkan diantaranya dengan memperhatikan adab. Adab terhadap ilmu, guru dan teman. Orang yang beradab dianggap mengagungkan ilmu, dan pantas untuk mendapatkan ilmu. Orang yang tidak beradab, maka dikhawatirkan ilmu akan sia-sia.
Ibnu Sirin berkata,
كانوا يتعلمون الهديَ كما يتعلمون العلم
“Mereka -para ulama- dahulu mempelajari petunjuk (adab) sebagaimana mereka menguasai suatu ilmu.”
Bahkan sebagian salaf mendahulukan mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Dan banyak penuntut ilmu yang tidak mendapat ilmu karena menyia-nyiakan adab.
11. Menjaga ilmu dari apa yang menjelekkannya.
Hendaknya penuntut ilmu menjaga wibawanya, apabila dia menjatuhkan wibawanya sebagai penuntut ilmu, maka ia telah menjatuhkan ilmu. Seperti terlalu banyak menoleh di jalan atau berteman dengan orang fasik.
12. Memilih teman yang sholih.
Teman yang membantu menuntut ilmu dan bersungguh-sungguh. Teman yg tidak baik memberi pengaruh yang tidak baik.
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
13. Berusaha keras menghafal ilmu, bermudzakarah dan bertanya.
Menghafal berkaitan dengan diri sendiri, bermudzakarah adalah mengulang ilmu dengan teman, dan bertanya kepada guru. Syaik Utsaimin berkata, kami menghafal sedikit dan membaca banyak, maka kami mengambil manfaat lebih banyak dari yang kami hafal daripada yang kami baca.
Dengan mudzakarah dapat hidup ilmu dalam jiwa, dan dengan bertanya akan terbuka perbendaharaan ilmu.
14. Menghormati ahli ilmu.
Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.
Murid harus tawadhu tehadap guru, menjaga adab berbicara, mendoakan, mengucapkan terimasih, menampakkan rasa butuh,
tidak menyakiti dengan ucapan & perbuatan, dan mengingatkan dengan lembut bila ada kesalahan.
?menetili apakah benar keslahan keluar dr guru
?apa benar itu adalah sebuah kesalahan
?tidak mengikuti kesalahan
?memberikan udzur kepada sang guru
?memberikan nasehat dengan lembut & rahasia
?menjaga kehormatan guru di depan orang lain
15. Menyerahkan segala sesuatu kepada ahlinya tidak memaksakan diri nya atas apa yang dia tidak mampu. Jangan bicara tanpa ilmu, terutama untuk urusan besar.
Ulama memiliki ilmu dan pengalaman, percayalah.
Apabila ulama berselisih, lebih hati-hati dengan mengambil pendapat mayoritas diantara ulama.
16. Menghormati majlis ilmu & kitab
Hendaknya beradab saat bermajleis, melihat pada gurunya, tidak banyak menoleh, memainkan tangan, berbicara dengan yang lain, menguap hendaknya ditahan, tidak bersandar saat bermajlis, bersin direndahkan suaranya.
Menghormati kitab, tidak menyimpan kitab disimpanan, tdk bersandar pada kitab, jika membaca di depan guru hendaknya kitab tersebut diangkat, tidak diletakan di tanah.
17. Membela ilmu dan menolongnya
Ilmu mempunyai kehormatan yang mengharuskan penuntutnya harus membela dan menolongnya bila ada yg berusaha merusaknya.
Ulama membantah oarang yng menyimpang jika penyimpangannya sudah jelas, untuk menjaga agama dan menasehati kaum muslimin.
Misal memboikot seorang mu’tadik, orang yg membuat bid’ah, tidak mengambil ilmu kecuali dalam keadaan terpaksa. misalnya tidak mengambil ilmu dari ahli bid’ah
18. berhati2 dalam bertanya kepada para ulama.
Perhatikan 4 perkara
?bertanya untuk belajar bukan untuk mengeyel. Orang yang niatnya tidak baik dalam bertanya akan dijauhkan dari keberkahan
?bertanya yang bermanfaat
☘️melihat keadaan gurunya, bila sedang tidak kondusif
?memperbaiki cara bertanya, guankan kalimat baik, mendoakan guru sebelum bertanya, menggunakan panggilan penghormatan
19. Cinta yang sangat terhadap ilmu tidak mungkin seseorang mencapai derajat ilmu, jika kelezatan yang ada di dalam ilmu. Kelezatan ilmu didapat dengan 3 perkara,
?menggunakan segenap tenaganya dan kesungguhan utk belajar
?kejujuran dalam belajar
?keikhlasan niat
20. Menjaga waktu di dalam ilmu tidak menyia2kan waktu dalam menuntut ilmu, menggunakan waktu utk ibdah dan mendahulukan yang afdhal didalam amalan-amalan
Salaf dahulu, ada yang muridnya membaca kitab kepada guru saat gurunya sedang makan, tujuannya agar waktunya tidak tersia2 dalam menuntut ilmu.